Membumikan Kurikulum dan Kompetensi Anak
“Sejatinya proses pembelajaran itu hanya membutuhkan seperempat persiapan (RPP), tiga perempatnya adalah panggung kegiatan”.
Berbicara tentang pendidikan, mesti dimulai dari anak. Bukan dari kurikulum. Kenakalan pada anak merupakan “embryo management”. Mereka nakal karena ingin pengakuan. Itulah peran pendidikan dalam mendidik anak, saat mendampingi tumbuh kembang perikehidupan anak. Mendidik anak berarti membimbing dan mengelola pribadi mereka secara utuh, terutama aspek sosial-emosinya. Mengayakan lingkungan “enrichment” memiliki banyak pengaruh dari pada hanya melakukan pengajaran “instruction”. Proses pembelajaran di TK melalui penemuan (discovery) seperti yang digagas oleh Bruner, Dewey, Elkind bahwa anak datang ke sekolah adalah untuk berbuat (to do, to cook, to sew, to work with wood and tools in simple constructive acts….
Pendidikan kita jangan menciptakan ketakutan untuk gagal dalam berpraktik. Jangan hanya melatih bersaing untuk memperoleh angka dalam nilai-nilai ujian. Oleh karena pendidikan, terutama pendidikan anak usia dini di TK, sejatinya mampu memberikan pengalaman anak untuk banyak berbuat baik (values). Kegagalan dalam berbuat, adalah pengalaman yang bermakna buat anak. Berbuat salah, menemukan kegagalan, dan belajar dari kesalahan serta kegagalan, sesungguhnya adalah kesuksesan mereka sebagai anak yang tertunda. Melalui kesalahan itulah anak bisa memperbaiki diri ke arah yang benar dan patut. Itulah makna dari berguru dan belajar dari pengalaman dan belajar yang konstruktif.
Kondisi keliru dalam pendidikan anak usia dini selama ini, seperti berorientasi pada proses pembelajaran secara kognitif /akademik secara dini kepada anak seperti calistung dengan cara tidak sesuai dengan kondisi anak, belajar dengan LK telah dipahami Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai bentuk perlakukan ‘malpraktik pedagogi’. Melawan hakikat Sunnahtullah dari tujuan pendidikan itu sendiri.
Anak-anak usia TK yang tengah menjalani masa inisiatif kreatif sangat mendambakan proses pembelajaran yang kaya dengan nilai-nilai semangat, kegembiraan dalam belajar. Sambil bermain mereka diajak belajar untuk menanamkan nilai-nilai spiritual, sosial, kecakpan dan pengetahuan untuk membentuk perikehidupan mereka sebagai anak. Untuk itu dibutuhkan sebuah cara pandang baru dalam mengkonstruk pendidikan mereka melalui pendekatan pedagogi yang kaya dengan kegiatan di mana anak ‘full of life’--- sarat dengan pengembaraan hidup sebagai anak. Sebuah pembelajaran yang hidup, akan mampu menghela pengetahuan-pengetahuan yang dibutuhkan anak. Seperti tumbuhnya minat untuk membaca, menulis dan berhitung. Terjadi lompatan-lompatan kecerdasan karena keinginan dan potensi dari dalam diri anak itu sendiri. Bukan karena paksaan orang tua dan guru!
Di bawah ini ada sebuah tema
yang kaya dengan kandungan pedagogi namun mampu memicu beragam kecerdasan anak.
Dapat dilakukan di TK mana pun, mudah dan murah, dan kontekstual.
Komentar
Posting Komentar