Plant Blindness
Isu ‘Plant Blindness’ marak sejak tahun 1999, jauh sebelum PBB menggaungkan program EfSD. Ketika seorang ahli botani dan pendidik biologi J.H. Wandersee dan E.E Schussler mempublikasikan ‘preventing plant blindness’. Kecenderungan manusia mengabaikan tumbuhan di lingkungan sekitarnya, sebagai bentuk bias dari kognitif informal dalam pendidikan sejak anak usia dini. Penulis mengamati sendiri keabaian generasi yang hidup hari ini terhadap tumbuhan. Mereka menikmati nikmatnya minuman kopi dan coklat setiap saat, namun mereka tidak mengenali seperti apa kehidupan tumbuhan tersebut. Tumbuhan dianggap tidak penting karena tidak bergerak seperti hewan, kebanyakan berwarna sama (hijau) dan keberadaannya dianggap tidak penting. Kajian lain juga dipengaruhi oleh faktor praktik budaya. Pada suku-suku tertentu di Indonesia mereka lebih suka mendongengkan cerita hewan (fable) kepada anak-anak mereka dari pada dongeng tentang tumbuhan tertentu. Naasnya lagi kekuatan proses pembelajaran sains sejak usia dini hingga ke jenjang pendidikan formal lebih menekankan kepada pengetahuan semata (knowing the good) tanpa praktik-praktik nyata dalam proses belajar yang menyenangkan, melibatkan sensori indrawi anak.
Saat rusaknya lingkungan oleh tangan-tangan
manusia yang tidak bertanggungjawab yang
tidak mampu merekonstruk sistem pertanian yang berkelanjutan di atas planet
yang kita huni bersama ini. Saat penyakit tanaman datang, iklim datang silih
berganti tidak menentu, hujan dan panas terjadi tanpa aturan. Terjadilah rawan pangan,
kelaparan di mana-mana, saat itulah semua biji-biji akan menghilang dari
permukaan bumi.
Biji-bijian menyediakan makanan, serat, dan bahan bakar bagi kehidupan
manusia. Baik itu biji-bijian liar atau biji-bijian yang dibudidayakan di lahan
pertanian petani kita. Aneka biji-bijian itu
menjadi salah satu bagian yang teramat penting sepanjang waktu dan
sepanjang kehidupan makhluk di atas dunia ini. Jika semua aneka biji-bijian itu menghilang dari
kehidupan kita, maka itulah pertanda hari ’akhir’ untuk manusia dan aneka
hewan-hewan lainnya. Hari kiamat itu tiba!
Biji-bijian, udara, air, dan tanahlah yang membuat kita bertahan sebagai manusia hingga saat ini. Melalui aneka biji-bijian itulah keberlangsungan keindahan dan vitalitas bumi senantiasa terjaga. Biji-bijian menjadi esensial regeneratif kehidupan di dunia. Setiap biji memiliki cara unik mengisi kehidupan kita. Jika biji-bijian itu masih ada dan terjaga, maka sistem di atas planet ini akan turut terjaga dan membuat manusia dan seluruh makhluk masih bisa gratis bernafas. Setiap sat kita bernafas berarti kita menghirup oksigen yang diproduksi aneka tanaman. Biji-bijian berkloropil menjadi partner setia kita, yang tak mampu berkata-kata, selalu bekerja dalam hening, untuk senantiasa merawat kehidupan semua makhluk di bumi ini menjadi nyaman, sehat, dan sejahtera.
Kebergantungan manusia dan tanaman terjadi sepanjang zaman. Saling mengantungkan hidup. Manusia menabur bibit biji-bijian, merawatnya, dan menuai hasilnya. Tanaman mempersembahkan makanan pokok kepada kita semua (padi, jagung, gandum, ubi ketela, dsbnya), memberi kita pakaian (kapas, rami, dsbnya), memberi kita tempat bernaung dan perkakas rumah tangga (rumah, mebeler, dsbnya). Hampir 80 % obat-obatan di dunia berasal dari tanaman. Bahkan setelah mati pun jasad aneka tanaman itu masih memberi manusia aneka kemewahan berlimpah ruah tak berhingga bernama bahan bakar minyak bumi, aneka batu permata, intan, emas, berlian, dan uranium. Sanggupkah kita kehilangan tanaman dari sekitar diri kita yang semuanya itu memiliki ‘bibit, biji-bijian’ yang menjaga kelangsungan hidup manusia dan kelangsungan hidup dunia?
Kenyataannya, bahwa manusialah biang penghancur semua kebaikan hidup itu. Tumpah ruahnya kemewahan tak bisa terjaga oleh perilaku ganas dan rakusnya manusia. Perilaku boros, menghambur-hamburkan bahan bakar, boros air, dan kesombongan lembaga pendidikan kita yang tak suka anak didiknya memegang tanah dengan berbagai alasan sehingga jumlah petani terus menurun karena profesi petani dipandang rendah, tak bergengsi. Lihatlah, banyak para petani kita memang hidup sangat miskin, dijerat para ijon dan rentenir. Pupuk kimia harga melangit, pupuk organik yang murah dianggap tidak bermutu dan tidak modern. Itulah mengapa para lulusan perguruan tinggi di bidang pertanian tidak ada yang mau menjadi petani. Oleh karena menjadi petani tidak sejahtera dan berkelas.
Manusia menciptakan sendiri kehidupan dramatik pada dirinya seperti menuai akibat. Berkarena maka berkejadian. Populasi manusia melaju cepat seiring dengan perilaku komsumtif dan hedonisnya. Industri raksasa yang memproduk makanan berdiri menjamur di mana-mana, telah menghabiskan sistem pendukung biologi dasar yang memicu pemanasan global. Alam kehilangan biodiversiti, air bersih, dan tanah yang subur. Semua itu telah mengancam kelangsungan biji-bijian (seeds).
Siapa yang akan mengontrol masa depan biji-bijian (Seeds) itu?
Apakah industri pertanian yang menggunakan oplosan bahan kimia, dan teknologi
genetik sebagai pilihan kita untuk menyongsong masa depan yang sehat itu mampu
menjaganya? Apakah rekayasa genetik yang mengontrol teknologi komersial yang
dikembangkan perusahan swasta (bukan pemerintah) yang menguasai pertanian kita
semenjak dari menyemai bibit hingga menjadi makanan lezat di mulut kita yang
akan menjadi sahabat kita?
Komentar
Posting Komentar