Menurut John Dewey (1916), bermain bagi anak memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan bekerja bagi orang dewasa. Jika orang dewasa menemukan makna, tantangan, pencapaian, dan pengembangan diri melalui pekerjaan, maka anak menemukan semua itu melalui aktivitas bermain. Bermain bukan sekadar kegiatan pengisi waktu luang, melainkan cara alami anak belajar memahami dunia, dirinya sendiri, dan orang lain di sekitarnya.
Coba bayangkan, apa yang membuat seorang anak begitu bersemangat untuk hadir ke sekolah setiap hari? Apa yang membuat mereka bangun pagi dengan wajah cerah dan mata yang berbinar? Bagi banyak anak, jawabannya sederhana: bermain. Mereka menantikan kesempatan untuk bertemu teman-teman, berlari di halaman sekolah, bercakap-cakap, berimajinasi, tertawa, dan mengeksplorasi berbagai hal baru melalui permainan.
Tidak jarang anak-anak datang lebih awal ke sekolah hanya agar memiliki waktu bermain yang lebih panjang. Di balik aktivitas yang tampak sederhana itu, sesungguhnya sedang berlangsung proses belajar yang sangat kompleks. Ketika anak bermain, mereka sedang mengamati, mencoba, bereksperimen, membuat prediksi, menyelesaikan masalah, bernegosiasi, dan membangun pemahaman baru tentang lingkungan mereka.
Dalam perspektif perkembangan kognitif, bermain menjadi landasan penting bagi terjadinya proses asimilasi, akomodasi, pembentukan skema, pengembangan skemata, hingga munculnya kondisi disequilibrium yang mendorong anak untuk berpikir dan belajar lebih jauh. Melalui bermain, anak menghubungkan pengalaman baru dengan pengetahuan yang telah dimilikinya, lalu menyesuaikan cara berpikirnya ketika menemukan hal-hal yang berbeda dari pemahamannya sebelumnya. Dengan kata lain, bermain adalah laboratorium belajar yang paling alami bagi anak.
Lebih dari itu, bermain merupakan hak dasar setiap anak. Melalui bermain, anak membangun its self, yaitu pemahaman tentang siapa dirinya sebagai individu yang unik, memiliki minat, kemampuan, perasaan, dan identitas. Pada saat yang sama, bermain juga menjadi sarana bagi anak untuk belajar menjadi its people, yaitu bagian dari kelompok sosial yang lebih luas. Saat bermain bersama teman, anak belajar berbagi, bekerja sama, menghargai aturan, menyelesaikan konflik, mengelola emosi, serta memahami perspektif orang lain.
Oleh karena itu, masa bermain tidak boleh dipandang sebagai waktu yang sia-sia atau tidak produktif. Justru pada masa inilah fondasi penting perkembangan anak sedang dibangun. Terbayangkan betapa besar kerugian yang dapat terjadi apabila kesempatan bermain anak terenggut karena ketidakpahaman kita terhadap kebutuhan tumbuh kembang mereka. Ketika bermain dibatasi secara berlebihan demi tuntutan akademik yang terlalu dini, anak berisiko kehilangan ruang untuk bereksplorasi, berkreasi, dan mengembangkan potensi dirinya secara utuh.
Fungsi bermain memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan perkembangan aspek kognitif. Melalui bermain, anak belajar berpikir kritis, memecahkan masalah, membuat keputusan, mengembangkan daya ingat, meningkatkan konsentrasi, serta memperluas kemampuan berbahasa dan bernalar. Namun manfaat bermain tidak berhenti pada ranah kognitif saja. Bermain juga mendukung perkembangan sosial, emosional, fisik, moral, dan kreativitas anak. Karena itulah, bermain bukanlah lawan dari belajar. Bagi anak usia dini, bermain adalah cara terbaik untuk belajar.
Ketika anak bermain dengan gembira, sesungguhnya mereka sedang membangun fondasi bagi pembelajaran sepanjang hayat. Maka tugas orang dewasa bukanlah mengurangi kesempatan bermain mereka, melainkan menyediakan lingkungan yang aman, kaya pengalaman, dan penuh stimulasi agar setiap permainan dapat menjadi jembatan menuju tumbuh kembang yang optimal.
Karena bagi anak, bermain bukan sekadar kegiatan. Bermain adalah cara mereka belajar, bertumbuh, menemukan diri, dan memahami dunia.

Komentar
Posting Komentar